Rasulillah Al Musthofa Saww :

"ALLAH AWJ memilih untuk tiap tiap Nabi seorang washi dan Ali adalah washiku, pada keturunanku dan Ahlulbaytku, serta umatku sesudahku"

June 30, 2009

12 Pemimpin Quraish




Imam Muhammad Al Baqir As berkata :

"ISLAM ditegakkan atas 5 perkara :

~ Mendirikan Sholat
~ Menunaikan Zakat
~ Haji di Baitullah
~ Puasa di Bulan Ramadhan
~ Menjadikan Ahlulbait Sebagai pemimpin.

Yang 4 perkara masih ada keringanan sedang yang satu perkara (berwilayah kepada Ahlul Bayt) tidak ada keringanan. Sesiapa yang tidak mempunyai harta tidak diwajibkan zakat, Sesiapa yang tidak mempunyai harta tidak diwajibkan berhaji, Sesiapa yang tidak bisa berdiri (karena sakit), boleh sholat dengan duduk dan tidak berpuasa. Namun berwilayah kepada Ahlulbayt (menjadikan Ahlulbayt sebagai pemimpin) adalah wajib bagi yang sakit ataupun sehat, bagi yang berharta maupun yang tidak berharta" [ Wasail Syiah Juz 1 Hal.14 ]


Al Karim Surah An Nisa ayat 59

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian."

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati "Ulil Amri" secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah saw.

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?"

Rasulullah saw menjawab, "Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama "Al-Baqir" dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja'far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja'far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.

Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi' al-Mawaddah, hal. 494, 443-Qundusi al hanafi


Surah An Nisa ayat 59 - Perintah Mentaati Ulil Amri

"Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri kamu."

Yang dimaksud "Ulil Amri" dalam ayat ini adalah Ali dan para Imam dari keturunannya.

-Imam Ali bin Abi Tholib AS (40 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Mujtaba AS ( 50 H)
-Imam Husein bin Ali asy-Syahid AS (61 H)
-Imam Ali Bin Husein Zainal Abidin as-Sajjad AS (95 H)
-Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS (114 H)
-Imam Ja'far bin Muhammad ash-Shodiq AS (148 H)
-Imam Musa bin Ja'far al-Kadhim AS (183)
-Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS (203)
-Imam Muhammad bin Ali al-Jawad AS (220 H)
-Imam Ali bin Muhammad al-Hadi AS (254 H)
-Imam Hasan bin Ali al-Askari AS (260 H)
-Imam Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-Mahdi AFS (lahir 15 Sya'ban 255 H dan masih hidup)

{ Yanabi'ul Mawaddah, oleh Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman 134 dan 137, cet,. Al-Haidariyah; halaman 114 dan 117, cet. Islambul. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 148, hadis ke 202, 203 dan 204. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 357. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tastari, jilid 3, halaman 424, cet. Pertama, Teheran. Faraid As-Samthin, jilid 1, halaman 314, hadis ke 250. }



[Selengkapnya...]

Khutbah Imam Ali As No 191




Kedudukan Tinggi Amirul Mukminin dan Perbuatan Islam yang Menakjubkan


Hati-hatilah! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada saya untuk memerangi mereka yang memberontak atau membuat kekacauan di bumi. Mengenai para pelanggar baiat, saya telah memerangi mereka; mengenai para penyeleweng dari kebenaran, saya telah melancarkan perang suci terhadap mereka; dan mengenai orang-orang yang telah keluar dari agama, saya telah menempatkan mereka dalam kehinaan (yang parah).[**]

Mengenai iblis di lobang, ia pun telah saya tanggulangi melalui pekikan keras, yang dengan itu jeritan hatinya dan goncangan dadanya juga kedengaran.[***] Hanya sebagian kecil dari pemberontak yang tertinggal. Apabila Allah memberikan kepada saya satu kesempatan lagi atas mereka, saya akan menumpas mereka kecuali sedikit sisa yang mungkin tinggal bertebaran di pinggiran-pinggiran kota.

Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya telah merendahkan dada para lelaki Arab (yang kenamaan), dan mematahkan ujung tanduk (yakni mengalahkan para kepala) suku Rabi'ah dan Mudhar. Pastilah Anda tahu akan kekerabatan saya yang dekat dan hubungan saya yang khusus dengan Rasulullah (saw). Ketika saya masih kanak-kanak, beliau mengasuh saya. Beliau biasa menekankan saya ke dada beliau dan membaringkan saya di sisi beliau di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuh beliau kepada saya dan membuat saya mencium bau beliau. Beliau biasa mengunyah sesuatu kemudian menyuapi saya dengannya. Beliau tidak mendapatkan kebohongan dalam pembicaraan saya, tak ada pula kelemahan dalam suatu tindakan saya.

Sejak waktu penyapihannya, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawa beliau sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam, sementara saya biasa mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjukkan kepada saya beberapa dari akhlaknya yang mulia dan memerintahkan saya untuk mengikutinya seperti panji. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira', di mana saya melihat beliau tetapi tak seorang pun lainnya melihat beliau. Di hari-hari itu Islam tidak teidapat di rumah mana pun selain rumah Rasulullah (saw) dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga dari keduanya. Saya biasa melihat dan memperhatikan sinar cahaya dari wahyu dan risalah Ilahi, dan benghirup napas kenabian.

Ketika wahyu turun kepada Nabi Allah (saw), saya mendengar bunyi keluhan iblis. Saya berkata, "Wahai Rasulullah, keluhan apakah itu?" dan beliau menjawab, "Ini iblis yang telah kehilangan segala harapan untuk disembah. Ya, 'Ali, Anda melihat apa yang saya lihat dan Anda mendengar apa yang saya dengar, kecuali bahwa Anda bukan nabi; tetapi Anda adalah seorang wazir dan sesungguhnya Anda pada (jalan) kebajikan."

Saya bersama beliau ketika sekelompok orang Quraisy datang seraya berkata kepada beliau, "Hai, Muhammad, Anda telah membuat suatu pengakuan besar yang tak ada dari nenek moyang kalangan famili Anda telah melakukannya. Kami meminta kepada Anda satu hal; apabila Anda memberi jawaban atasnya kepada kami, kami akan mempercayai bahwa Anda adalah seorang nabi dan rasul; tetapi, apabila Anda tak dapat (memenuhinya), kami akan tahu bahwa Anda seorang penyihir dan pembohong."

Rasulullah berkata, "Apa yang Anda minta?" Mereka berkata, "Suruhlah pohon ini berpindah bagi kami, bahkan dengan akar-akamya, dan berhenti di hadapan Anda." Nabi menjawab, "Apabila Allah melakukannya untuk Anda, apakah Anda akan percaya dan memberi kesaksian atas kebenaran itu?" Mereka berkata, "Ya." Maka beliau berkata, "Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang Anda kehendaki, tetapi saya tahu bahwa Anda tak akan tunduk kepada kebajikan, dan ada di antara Anda sekalian orang-orang yang akan dilemparkan ke dalam lobang dan orang-orang yang akan membentuk partai-partai (melawan saya)." Kemudian Nabi Suci berkata, "Hai pohon, apabila Anda beriman kepada Allah dan Hari Pengadilan, dan mengetahui bahwa saya adalah Rasul Allah, datanglah dengan akar-akar Anda dan berdirilah di hadapan saya atas izin Allah." Derni Dia yang mengutus beliau dengan kebenaran, pohon itu berpindah sendiri dengan dengungan besar dan kepakan seperti kepakan sayap burung, sampai ia berhenti di hadapan Rasulullah, sementara beberapa rantingnya menurun sampai ke bahu saya, dan saya berada di sisi kanan Nabi Suci.

Ketika orang-orang itu melihatnya, mereka berkata dengan bangga dan sombong, "Sekarang Anda perintahkanlah separuhnya datang kepada Anda sedang yang separuhnya lagi tinggal (di tempatnya)." Nabi memerintahkan pohon itu untuk berlaku seperti itu. Kemudian setengah dari pohon itu maju kepada beliau secara yang mencengangkan dan dengan dengungan yang lebih keras, hampir menyentuh Rasulullah. Kemudian mereka berkata, dengan tidak beriman dan secara memberontak, "Suruhlah yang setengah itu kembali (berpadu) kepada sesamanya dan menjadi seperti semula." Nabi memerintahkannya dan pohon itu pun kembali. Lalu saya berkata, "Ya Rasulullah, saya yang pertama beriman kepada Anda dan mengakui bahwa pohon itu telah melakukan apa yang baru saja telah dilakukannya dengan perintah Allah Yang Mahamulia, sebagai saksi atas Kenabian Anda dan untuk meninggikan kata Anda. Atasnya semua orang itu berteriak, "Malah seorang penyihir, seorang perabohong; itu sihir yang menakjubkan, ia sangat mahir dalam hal itu. Hanya lelaki seperti ini (sambil menunjuk kepada saya) dapat berdiri sebagai saksi kepada Anda dalam urusan Anda." Sungguh, saya termasuk kepada kelompok manusia yang ddak mempedulikan ejekan siapa pun dalam urusan mengenai Allah. Wajah mereka adalah wajah orang benar dan ucapan mereka adalah ucapan orang berkebajikan. Mereka berjaga di waktu malam (dalam ibadat kepada Allah) dan menjadi menara (petunjuk) di siang hari. Mereka berpegang teguh pada tali Al-Qur'an, menghidupkan sunah-sunah Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyombong dan tidak bergelimang dalam mengagumi diri, tidak menyeleweng dan tidak membuat bencana. Hati mereka berada di surga, sedang tubuh mereka sibuk beramal.

-----

** Amirul Mukminin 'Ali, Ab Ayyub al-Anshari, Jabir ibn 'Abdullah al-Anshari, 'Abdullah ibn Mas'ud, 'Ammar ibn Yasir, Abfl Sa'id al-Khudri, dan 'Abdullah ibn 'Abbas meriwayatkan bahwa Nabi telah memerintahkan 'Ali ibn Abi Thalib untuk memerangi orang-orang pelanggar baiat (nkitsn), penyeleweng dari kebenaran (qsithn), dan orang-orang yang meninggalkan agama (mriqn). (Mustadrak, III, h. 139; al-Isti'ab, III, h. 1117; Usd al-Ghdbah, III, h. 32-33; ad-Durr al-Mantsur, VI, h. 18; al-Khasha'ish al-Kubr, II, h. 138; Majma' az-Zawa'id, V, h. 186 dan VI, h. 235 dan VII, h. 238; Kanz al-'Umml, VI, h. 72, 82, 88, 155, 215, 319, 391, 392; Tarikh Baghdd, VIII, h. 340, h. 186-187; Tarikh Ibn Katsr, VII, h. 304-306; ar-Riydh an-Ndhirah, II, h. 240; Syarh al-Mawhib al-Laduniyyah, III, h. 316-317; Mawadhdhah al-Auham, I, h. 386.) Ibn Abil Hadid mengatakan, "Telah dibuktikan (dengan periwayatan yang benar) dari Nabi bahwa beliau berkata kepada 'Ali,

'Anda akan memerangi para pelanggar janji, para penyeleweng dari kebenaran, dan orang-orang yang meninggalkan agama.'"

Pelanggar janji adalah kaum Jamal, karena melanggar baiat mereka kepadanya. Penyeleweng dari kebenaran adalah orang Suriah (Syam) di Shiffin. Orang yang meninggalkan agama adalah kaum Khariji. Tentang ketiga kelompok ini Allah berfirman,

"Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri...." (QS. 48:10)

(Tentang kelompok yang kedua) Allah berfirman,

"Adapun orang-omg yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka mejadi kayu api bagi neraka jahanam." (QS. 72:15)

Mengenai kelompok yang ketiga, Ibn Abil Hadid merujuk hadis berikut: Bukhari, ash-Shahih, IV, h. 166-167; Muslim, ash-Shahih, m, h. 109-117; Tarmidzi, al-Jami' al-Shahih, IV, h. 481; Ibn Majah, as-Sunan, I, h. h. 59-62; an-Nasa'i, as-Sunan, II, h. 65-66; Malik ibn Anas, d-Muwaththa', h. 204-205; ad-Daraquthni, as-Sunan, III, h. 131-132; ad-Darim, as-Sunan, II, h. 133; Ab Dawd, as-Sunan, IV, h. 241-246; al-Hakim, al-Mustadrak, II, h. 145-154 dan IV, h. 531; Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, I, h. 88, 140, 147, dan III, h. 56, 65; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubr, VIII, h. 170-171. Semuanya telah meriwayatkan melalui sekelompok sahabat Nabi bahwa beliau berkata tentang Dzul Khuwaishirah (julukan Dzuts-Tsudayyah Hurqs ibn Zuhair at-Tamimi, pemimpin kaum Khariji).

"Dari keturunan orang ini akan muncul orang yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka; mereka akan membunuh para pengikut Islam dan akan membiarkan pemuja berhala. Mereka akan memandang sekilas melalui ajaran Islam sama tergesa-gesanya seperti panah melewati mangsanya. Apabila saya sampai mendapatkan mereka, saya akan membunuh mereka seperti kaum 'Ad."

Kemudian Ibn Abil Hadid melanjutkan,

"Ini suatu tanda kenabian (Nabi Muhammad saw) dan ramalannya tentang pengetahuan rahasia." (Syarh Nahjul Balghah, XIII, h. 183)




*** Dengan "iblis di lobang", rujukannya ialah Dzuts-Tsudayyah (yang nama lengkapnya telah disebutkan dalam catatan nomor 5 di atas, yang terbunuh di Nahrawan oleh sambaran kilat dari langit, dan tak ada orang lagi yang perlu membunuhnya dengan pedang. Nabi telah meramalkan kematiannya. Oleh karena itu, setelah menumpas kaum Khariji di Nahrawan, Amirul Mukminin keluar mencari, tetapi tidak menemukan mayatnya di mana-mana. Sementara itu, ar-Rayyan ibn Shabirah melihat sekitar empat puluh atau lima puluh mayat di dalam lobang di tepi terusan. Ketika mayat-mayat itu dikeluarkan, mayat Dzuts-Tsudayyah juga terdapat di antara mereka. la dinamai Dzuts-Tsudayyah karena sebongkok daging di bahunya. Ketika Amirul Mukminin melihat mayatnya, ia berkata, "Allah Maha-besar, tidak saya berkata bohong, tidak pula saya dibohongi." (Ibn Abil Hadid, Syarh Nahjul Balghah, XIII, h. 183-184; ath-Thabari, I, h. 3383-3384; Ibn Atsir, III, h. 348).


[Selengkapnya...]

June 22, 2009

Khutbah Jumat Rahbar - Dalam Perspektif




To see live Rahbar Khutbah from Tehran University
Click Khutbah Jumaat Rahbar

...

Hari Jum'at, 19 Juni 2009, kota Tehran menjadi saksi sebuah pertemuan akbar ‎bernuansa maknawiyah yang menebar aroma Imam Mahdi (as), yaitu shalat ‎Jum'at yang dipimpin oleh Wali Faqih, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei. ‎Dalam khotbah Jum'at di depan lautan jamaah yang memenuhi komplek ‎Universitas Tehran dan jalan-jalan di sekitarnya, Pemimpin Besar Revolusi Islam ‎menyampaikan khotbah bersejarah yang mengukuhkan persatuan bangsa. ‎Setelah menyampaikan pesan taqwa beliau menjelaskan tentang dzikrullah, ‎berharap kepada pertolongan Allah dan sakinah atau ketenangan hati sebagai ‎faktor utama yang menyelamatkan bangsa Iran dari terpaan badai dahsyat dan ‎beragam peristiwa besar yang mewarnai negeri ini dalam tiga puluh tahun sejak ‎kemenangan revolusi Islam. ‎

Di bagian lain khotbahnya, pemimpin yang di Iran lazim disebut Rahbar ini ‎menguraikan berbagai dimensi pemilihan umum presiden 12 Juni lalu dan ‎rangkaian peristiwa yang terjadinya setelahnya. Beliau mengatakan, "Partisipasi ‎rakyat yang tanpa tanding dan epik yang mereka ciptakan pada tanggal 22 ‎Khordad (12 Juni) adalah pentas besar kepercayaan, harapan, dan semangat ‎bangsa. Peristiwa ini ibarat gempa dahsyat yang mengguncang arena politik ‎musuh, sementara bagi para pencinta Iran dan revolusi Islam peristiwa ini ‎adalah pesta yang bersejarah. Masing-masing dari 40 juta warga yang ‎menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum telah memberikan suaranya ‎kepada Imam Khomeini, revolusi Islam dan para syuhada. Keempat kandidat ‎yang bersaing adalah bagian dari pemerintahan Islam. Masalah yang muncul ‎hendaknya diselesaikan dan ditindaklanjuti lewat jalur undang-undang yang ‎jelas."‎

Pada khotbah kedua yang berkali-kali diiringi oleh gema takbir para hadirin, ‎Ayatollah Al-Udzma Khamenei membagi pembahasan ke dalam tiga kategori; ‎topik yang berhubungan dengan masyarakat secara umum, topik yang terkait ‎para calon presiden dan para tokoh politik, serta pembahasan ketiga yang ‎berkenaan dengan para pemimpin negara-negara arogan Barat.‎
Beliau menyampaikan rasa penghargaan yang dalam kepada rakyat Iran yang ‎mukmin atas partisipasi luas masyarakat dalam pemilu presiden periode ‎kesepuluh yang diikuti oleh hampir 40 juta warga Iran. Partisipasi besar itu ‎beliau sebut sebagai pentas yang mempertontonkan rasa tanggung jawab dan ‎animo besar untuk berbuat bagi negara. Rahbar menambahkan, "Epik penuh ‎gelora ini bermakna pengungkapan ekspresi dukungan penuh dan serentak dari ‎rakyat Iran kepada pemerintahan Islam. Partisipasi 85 persen warga pemilik hak ‎pilih dalam pemilu adalah peristiwa yang jarang ditemukan padanannya, dan ini ‎menunjukkan kemurahan dan karunia Allah serta perhatian Imam Mahdi (as) ‎kepada bangsa Iran dan pemerintahan Republik Islam."‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyebut keikutsertaan para pemuda dengan ‎penuh antusias di seluruh penjuru negeri pada pemilihan presiden periode ‎kesepuluh sebagai manifestasi dari kelanjutan komitmen berpolitik dan rasa ‎tanggung jawab yang dulu ada pada generasi awal revolusi yang terus mengalir ‎pada gerenasi muda saat ini. Beliau menandaskan, "Secara tulus dan dari lubuk ‎hati yang dalam saya salut dan tunduk di depan keagungan bangsa Iran dan ‎anak-anak muda kita."‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung keberagaman aliran politik di ‎tengah masyarakat Iran, seraya menjelaskan, "Di balik perbedaan pandangan ‎masyarakat, rasa komitmen bersama untuk mempertahankan negara dan ‎pemerintahan Islam nampak menggelora. Hal itu jelas terlihat dari kehadiran ‎warga, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, juga dari berbagai golongan ‎madzhab dan agama, warga desa dan kota, semuanya terlibat dalam mengukir ‎peristiwa besar membanggakan ini yang ibarat gempa dahsyat telah ‎mengguncang musuh. Namun bagi para pencinta bangsa Iran di seluruh dunia, ‎peristiwa ini adalah pesta yang sebenarnya dan bersejarah."‎

Menurut beliau, partisipasi 40 juta warga pada pemilu 12 Juni adalah gerakan ‎umum bangsa Iran dalam mengekspresikan kesetiaan kepada Imam Khomeini, ‎revolusi dan para syuhada. Beliau mengatakan, "Gerakan kolosal ini telah ‎menyuntikkan semangat baru bagi pemerintahan Islam ini untuk terus ‎melangkah ke arah kemajuan dan kemuliaan. Pemilu ini telah menunjukkan ‎kepada musuh-musuh negara ini akan makna hakiki dari demokrasi agama."‎
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menilai kehadiran warga di tempat-tempat ‎pemungutan suara yang dibarengi dengan kepercayaan, kebebasan, optimisme ‎dan keceriaan nasional, sebagai jawaban telak bangsa ini terhadap propaganda ‎miring media-media kaum arogan dunia. Beliau menambahkan, "Kepercayaan ‎rakyat kepada pemerintahan Islam yang merupakan kekayaan terbesar Republik ‎Islam, pada tanggal 12 Juni kembali menampakkan wujudnya. Musuh-musuh ‎Islam dan Iran dengan menebar isu dan keraguan tentang pemilu berupaya ‎menggoyahkan kepercayaan rakyat. Mereka berharap, dengan menurunnya ‎partisipasi rakyat, kredebilitas negara ini menjadi layak untuk dipersoalkan. Jika ‎target ini bisa tercapai, maka tak ada petaka dan kerugian yang bisa ‎dibandingkan dengannya."‎

Rahbar mengingatkan kembali propaganda gencar yang dilancarkan arogansi ‎dunia sejak beberapa bulan yang lalu tentang kecurangan dalam pemilu 12 Juni ‎di Iran. "Dalam pidato awal Farvardin (21 Maret) di kota Mashad, saya telah ‎mengingatkan rekan-rekan di dalam negeri untuk tidak mengulangi kata-kata ‎musuh tentang kecurangan pada pemilu. Sebab, dengan cara itu musuh ‎berusaha melemahkan kepercayaan rakyat yang telah diperoleh pemerintahan ‎Islam dan para pejabat negara ini dalam tiga puluh tahun dengan susah payah," ‎kata beliau mengimbuhkan.‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa kompetisi antara para ‎kandidat presiden berlangsung bebas dan sengit pada masa kampanye, ‎termasuk yang nampak pada acara debat ketika para kandidat berbicara secara ‎transparan dan jelas di layar televisi. Beliau menambahkan, "Persaingan sengit ‎itu terjadi antara empat kandidat terhormat yang kesemuanya adalah bagian dari ‎pemerintahan Islam. Akan tetapi media-media massa yang umumnya dimiliki ‎kalangan zionis yang bengis, lewat kebohongan yang ditebarnya berusaha ‎mengesankan bahwa persaingan ini adalah pertarungan antara kubu pro ‎melawan kontra pemerintahan Islam di Iran."‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menjelaskan bahwa beliau mengenal keempat ‎kandidat presiden dari dekat. Beliau mengatakan, "Salah satu kandidat adalah ‎presiden yang benar-benar abdi rakyat, pekerja keras, dan terpercaya. Kandidat ‎berikutnya adalah orang yang pernah menjabat sebagai perdana menteri selama ‎delapan tahun selama saya bertugas sebagai presiden. Kandidat presiden lainnya ‎adalah sosok figur yang pernah menjabat sebagai panglima pasukan garda ‎revolusi Islam (sepah-e pasdaran) dan salah satu komandan inti dalam perang ‎pertahanan suci. Calon presiden keempat adalah orang yang pernah duduk di ‎pucuk pimpinan parlemen dalam dua periode. Semua itu menunjukkan bahwa ‎keempat calon presiden adalah orang-orang yang berada dalam tubuh ‎pemerintahan Islam, dan persaingan di antara mereka tidak seperti yang ‎didengungkan oleh mesin-mesin propaganda keji zionis, Amerika dan Inggris, ‎tetapi persaingan dalam tubuh pemerintahan Islam."‎

Rahbar menyinggung adanya perbedaan keempat kandidat dalam pandangan, ‎perspektif politik dan agenda kerja, seraya menegaskan, "Perbedaan pandangan ‎ini adalah perbedaan dalam lingkup negara. Saya memang meyakini di antara ‎mereka ada yang lebih layak untuk mengabdi kepada negara. Akan tetapi ‎pendapat dan pandangan pribadi tidak akan saya sampaikan kepada masyarakat. ‎Selain itu, tak ada alasan yang mengharuskan masyarakat untuk mengikuti ‎pendapat saya. Sebab pemilihan umum adalah milik rakyat semua. Merekalah ‎yang berhak menentukan hasilnya."‎

Di bagian lain khotbahnya, beliau mengangkat masalah debat kandidat di televisi ‎seraya menyebutnya sebagai inovasi yang penting dan menarik. "Debat yang ‎terbuka, sengit dan transparan akan mematahkan propaganda miring pihak ‎asing yang berusaha mengesankan pemilu di Iran sebagai persaingan yang tidak ‎faktual," ujar beliau.‎

Rakyat Iran, menurut Rahbar, dengan menyaksikan debat dan beragam acara ‎kampanye dapat mengambil keputusan. Rakyat meyakini bahwa dalam ‎pemerintahan Islam tidak ada istilah orang dalam dan orang luar. Pemerintahan ‎Islam tidak memandang rakyat umum sebagai pihak di luar sistem ini. Rakyat ‎memiliki hak untuk menentukan pilihan.‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa debat terbuka menghasilkan ‎beberapa poin positif diantaranya mengembangkan kemampuan daya pikir dan ‎kematangan dalam mengambil keputusan. Beliau menyebutkan bahwa suasana ‎debat selama masa kampanye telah merambah jalan-jalan dan masuk ke rumah-‎rumah warga. Beliau menambahkan, "Saya yakin bahwa peningkatan jumlah ‎orang yang menggunakan hak pilihnya sampai 10 juta orang di banding rata-rata ‎periode sebelumnya dipicu oleh keterlibatan masyarakat dalam berpikir tentang ‎pemilu. Inilah yang mendorong masyarakat ikut berpartisipasi dalam pemilu. ‎Karena itu, dari sisi ini, debat kandidat layak dipuji."‎

Beliau bahkan memandang fenomena dialog di tingkat pejabat sebagai hal yang ‎baik dan lazim. "Debat dan dialog ini perlu dilanjutkan dengan menghilangkan ‎poin-poin buruknya. Dengan demikian, semua orang dan para pejabat akan terus ‎berhadapan dengan kritik dan harus menjawab kritikan terhadapnya," tandas ‎beliau.‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei lebih lanjut menyebutkan beberapa poin negatif ‎dari perdebatan yang ada, seperti munculnya api permusuhan, pengungkapan ‎isu-isu infaktual, ketidakmatangan pihak terkait dalam mengurai pembicaraan, ‎serta amarah dan emosi yang mudah terpancing. Poin-poin negatif itulah yang ‎tidak beliau inginkan. Rahbar menambahkan, "Amat disayangkan, perdebatan ini ‎terkadang berubah menjadi ajang untuk saling menjatuhkan. Ada yang ‎menutup-nutupi pengabdian besar pemerintah saat ini, ada pula yang menutup ‎mata dari rapor kinerja pemerintahan yang lalu. Hal itu menimbulkan emosi dan ‎sentimen di hati para pendukung masing-masing kandidat."‎

Beliau menegaskan bahwa kedua pihak telah melakukan kesalahan dalam debat ‎kandidat. "Satu pihak secara terbuka melontarkan tuduhan-tuduhan memalukan ‎dan tak semestinya terhadap orang yang secara hukum sedang menjalankan ‎tugas sebagai presiden. Dengan membawakan data-data palsu ia menuduh ‎presiden yang dipilih oleh rakyat sebagai pendusta dan pemuja khurafat. ‎Tindakan seperti itu jelas melecehkan hukum, etika dan prinsip kejujuran. Di lain ‎pihak, terjadi kesalahan yang serupa. Keberhasilan yang dicapai revolusi Islam ‎dalam 30 tahun diremehkan. Tokoh-tokoh yang telah mengabdikan hidupnya ‎kepada negara ini digunjingkan. Tuduhan yang belum pernah dibuktikan secara ‎hukum diungkap secara terbuka," keluh beliau.‎
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut nama Hashemi Rafsanjani dan Nateq ‎Nuri, dua figur penting revolusi Islam yang namanya dicatut dalam debat ‎kandidat presiden. Beliau mengatakan, "Memang tak ada yang menyebut kedua ‎orang itu telah melakukan korupsi. Meski demikian, jika ada yang menuduh ‎sanak keluarga atau orang-orang dekat mereka melakukan tindak pidana korupsi ‎silahkan membuktikannya secara hukum. Publikasi masalah seperti ini yang ‎belum dibuktikan hanya akan menimbulkan penafsiran yang bukan-bukan di ‎benak masyarakat khususnya generasi muda."‎

Beliau menyatakan bahwa sejak lebih dari 50 tahun yang lalu telah mengenal ‎Hashemi Rafsanjani dan jasanya kepada revolusi dan negara. "Hashemi ‎Rafsanjani di masa perjuangan dulu di zaman kekuasaan rezim Shah termasuk ‎pejuang yang paling inti dan paling gigih. Setelah kemenangan revolusi, ia ‎menjadi figur yang sangat menentukan bersama Imam Khomeini. Beberapa kali ‎ia melangkah sampai di ambang kesyahidan. Setelah Imam Khomeini wafat ‎hingga saat ini, Rafsanjani selalu mendampingi Pemimpin Revolusi," jelas beliau.‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Sebelum kemenangan revolusi ‎Islam, Hashemi Rafsanjani membelanjakan hartanya untuk perjuangan. Dalam ‎kurun tiga puluh tahun terakhir, ia duduk di sejumlah posisi penting dan dalam ‎masa-masa kritis ia mengabdi kepada revolusi dan Negara. Tidak pernah ia ‎memanfaatkan revolusi untuk menumpuk kekayaan pribadi. Rakyat harus ‎mengetahui masalah ini dengan benar."‎

Lebih lanjut beliau mengakui adanya perbedaan pendapat antara beliau dengan ‎Hashemi Rafsanjani dalam berbagai masalah. Namun perbedaan pandangan itu ‎wajar dan jangan sampai masyarakat mengambil kesimpulan yang keliru.‎

Rahbar mengakui bahwa sejak empat tahun lalu, antara Ahmadinejad yang ‎terpilih sebagai presiden waktu itu dan Hashemi Rafsanjani terdapat perbedaan ‎pandangan menyangkut kebijakan luar negeri, pelaksanaan program keadilan ‎sosial, dan sejumlah masalah di sektor budaya. "Pandangan presiden lebih dekat ‎dengan pandangan saya," kata beliau.‎

Mengenai Nateq Nuri, Rahbar menyebutnya sebagai salah satu tokoh penting ‎yang secara tulus mengabdi kepada revolusi. "Tak ada kata ragu akan kesetiaan ‎Nateq Nuri kepada negara dan revolusi Islam," tegas beliau.‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menekankan bahwa sisi-sisi negatif harus ‎dihapuskan dari debat kandidat. Beliau menyatakan, "Sejak hari-hari masa debat ‎kandidat itu, saya telah mengingatkan Presiden sebab saya tahu presiden akan ‎melaksanakannya."‎

Mengenai tindak pidana korupsi beliau menegaskan, bahwa tak ada yang ‎mengingkari adanya tindak pidana korupsi dan penyelewenangan keuangan ‎negara di sini. "Jika tak ada tindak pidana korupsi di negara ini, tentu beberapa ‎tahun yang lalu saya tidak akan menulis surat delapan pasal tentang korupsi ‎kepada pimpinan tiga lembaga negara. Tapi tak diragukan bahwa Republik Islam ‎Iran termasuk salah satu sistem kenegaraan dan sosial di dunia yang paling ‎sehat. Data yang dikeluarkan oleh lembaga zionis jangan sampai dijadikan dasar ‎untuk menuduh adanya korupsi besar-besaran di negara ini, atau sebaliknya ‎tanpa alasan yang tidak benar orang satu pejabat tertentu dituduh dengan ‎tuduhan korupsi."‎

Beliau lebih lanjut menyimpulkan pembicaraannya dalam kaitan ini dan ‎mengatakan, "Rakyat Iran pada tanggal 12 Juni telah mengukir peristiwa ‎bersejarah. Namun sebagian kalangan yang memusuhi bangsa ini berusaha ‎mengubah loyalitas kepada pemerintahan Islam ini menjadi kegagalan nasional. ‎Mereka menebar isu yang meragukan kebenaran pemilu. Tujuannya adalah ‎untuk mencegah tercatatnya partisipasi terbesar dalam sistem demokrasi dunia ‎ini atas nama bangsa Iran. Namun fakta ini telah dicatat dalam sejarah, dan tak ‎bisa diingkari."‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei kepada rakyat Iran mengatakan, "Mereka yang ‎ikut berpartisipasi dalam pemilu dan memberikan suaranya kepada salah satu ‎dari empat kandidat, semua telah memberikan suaranya kepada pemerintahan ‎Islam dan revolusi ini. Insya Allah, mereka akan mendapat pahala Ilahi. Dengan ‎demikian dapat dikatakan bahwa revolusi Islam ini didukung oleh 40 juta suara, ‎bukan hanya 24,5 juta suara yang diperoleh presiden terpilih."‎
Rahbar menegaskan kembali bahwa rakyat Iran menaruh kepercayaan kepada ‎pemerintahan. Namun sebagian pendukung kandidat presiden harus tahu bahwa ‎Republik Islam bukan negara yang mau mengkhianati suara rakyat. Mekanisme ‎pemilihan umum di negara ini telah dibuat sedemikian rupa sehingga tak ‎mungkin terjadi kecurangan apalagi sampai berjumlah 11 juta suara.‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Meski demikian, saya telah ‎menginstruksikan kepada Dewan Garda Konstitusi untuk menindaklanjuti ‎pengaduan pihak yang merasa ada kecurangan. Jika perlu melakukan ‎penghitungan ulang sejumlah kotak suara hendaknya dilakukan dengan ‎disaksikan oleh utusan dari masing-masing kandidat."‎

Beliau menyatakan bahwa pengaduan terhadap proses pemilu bisa dilakukan ‎lewat jalur dan aturan yang ada. "Saya tidak akan tunduk pada tekanan untuk ‎melakukan hal-hal yang tidak legal. Dalam setiap pemilu mesti ada yang menang ‎dan ada yang yang gagal. Jika hari ini kita melakukan tindakan yang menyalahi ‎aturan, maka ke depan tidak ada lagi pemilu yang bisa dipercaya," tegas beliau.‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyebut undang-undang yang mengatur ‎pengaduan pemilu di Iran sebagai undang-undang yang lengkap. Beliau ‎mengatakan, "Undang-undang telah membuka pintu bagi para kandidat untuk ‎mengawasi dan mengajukan pengaduan. Semua hal harus dilakukan lewat jalur ‎yang benar."‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam dalam khotbah Jum'at ini lebih lanjut ‎mengarahkan pembicaraan kepada kalangan politikus, para kandidat, dan tokoh ‎partai politik. Beliau mengatakan, "Hari ini adalah masa-masa yang sensitif ‎dalam sejarah negara ini. Lihat apa yang terjadi di dunia, di kawasan Timur ‎Tengah, di negara-negara tetangga, juga kondisi ekonomi dunia saat ini. Karena ‎itu kita semua harus waspada saat berada pada masa yang genting seperti ini, ‎dan jangan sampai melakukan kesalahan."‎

Seraya menyatakan bahwa rakyat telah melakukan tugasnya dengan baik dalam ‎pemilu, Rahbar menandaskan, "Para aktivis politik dan mereka yang relatif bisa ‎memengaruhi opini umum hendaknya berhati-hati dalam berbicara dan ‎bertindak. Sebab, sedikit saja mereka bersikap ekstrim, akan muncul gelombang ‎ekstrimisme di tengah masyarakat yang dapat membawa negara ini ke dalam ‎kondisi genting dan berbahaya. Jika itu terjadi, mereka tak akan bisa ‎mengatasinya."‎

Menyinggung bahwa ekstrimisme akan melahirkan ekstrimis tandingan, beliau ‎menegaskan, "Jika elit politik hendak mengabaikan hukum, maka mau tidak ‎mau, mereka harus bertanggung jawab atas darah, kerusuhan dan kekacauan ‎yang terjadi."‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menambahkan, "Saya mengimbau rekan-rekan ‎lama dan saudara-saudara sekalian untuk bersikap lapang dada dan menahan ‎diri. Sadarilah dan jangan lalai akan adanya tangan-tangan musuh dan serigala-‎serigala buas yang sekarang sedikit demi sedikit mulai menyingkap wajah asli ‎dan menanggalkan basa-basi diplomasi."‎

Seraya mengingatkan para elit politik agar memikirkan tanggung jawab mereka ‎kelak di hadapan Allah, beliau mengatakan, "Saudara-saudaraku, ingatlah ‎kembali wasiat terakhir Imam Khomeini (ra) yang menegaskan bahwa hukum ‎adalah penyelesai akhir bagi setiap masalah."‎
Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa kotak suara pemilihan umum ‎adalah penentu segala perselisihan politik. Beliau menjelaskan, "Pemilihan umum ‎diadakah untuk mengetahui apa yang diinginkan rakyat lewat suara mereka, ‎bukan lewat aksi di jalan-jalan."‎
Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengingatkan, "Jika setiap pemilu bakal disusul ‎dengan aksi turun ke jalanan oleh kubu yang kalah, sebaliknya pihak yang ‎memenangi pemilu membalas dengan mengerahkan para pendukungnya untuk ‎unjuk kekuatan, lantas buat apa pemilu dilaksanakan? Selain itu apa dosa rakyat ‎sehingga pekerjaan dan kehidupan mereka harus terganggu karena tindakan ‎kita?"‎

Menyinggung demonstrasi jalanan yang marak belakangan ini, beliau ‎mengingatkan bahwa aksi mobilisasi massa seperti ini mudah dimanfaatkan oleh ‎anasir teroris untuk melakukan aksi terror. Beliau mengatakan, "Jika di sela-sela ‎konsentrasi massa ini terjadi tindakan teror, siapakah yang lantas bertanggung ‎jawab? Siapa yang bertanggung jawab atas tewasnya warga sipil atau aktivis ‎Basij dalam beberapa hari ini? Siapa yang bertanggung jawab atas aksi itu dan ‎reaksi atas terjadinya teror ini?"‎

Rahbar menyampaikan kritiknya yang keras terhadap rangkaian peristiwa yang ‎terjadi khususnya serangan terhadap asrama Universitas Tehran. Beliau ‎mengatakan, "Orang akan sedih menyaksikan terjadinya serangan terhadap ‎asrama universitas Tehran dan pemukulan terhadap para mahasiswa yang ‎mukmin dengan mengatasnamakan pembelaan kepada Pemimpin Revolusi ‎Islam."‎

Beliau lebih lanjut menegaskan bahwa aksi unjuk kekuatan di jalan-jalan pasca ‎pemilu sama dengan menolak pemilu dan demokrasi. "Saya minta kepada semua ‎pihak untuk mengakhiri cara-cara yang salah ini. Jika tidak, mereka harus ‎menanggung sendiri akibat dari kekacauan yang ditimbulkannya."‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam menandaskan, "Sebagian pihak mengira bahwa ‎dengan mengerahkan massa di jalan-jalan mereka dapat menekan pemerintahan ‎dan para pejabat tinggi negara akan terpaksa mengabulkan tuntutan mereka ‎demi kemaslahatan. Tapi saya tidak akan tunduk pada tekanan ini, sebab ‎mengambil langkah yang ilegal adalah awal dari kediktatoran."‎
Beliau menambahkan, "Anggapan seperti itu jelas keliru. Jika anggapan itu lantas ‎memicu tindakan yang salah, maka mereka yang berada di balik layar itulah ‎yang harus bertanggung jawab atas akibatnya. Jika perlu, nanti di saat yang ‎tepat masyakarat akan mengenal siapa mereka."‎

Rahbar mengimbau semua kalangan untuk menjalin persaudaraan dan ‎kesepahaman serta bersama-sama menghormati hukum. "Jalur hukum, ‎persaudaraan dan persahabatan tetap terbuka. Saya berharap, semuanya ‎melangkah di jalan ini, dan bersama-sama memeriahkan pesta 40 juta suara ‎rakyat ini. Jangan biarkan musuh merusak keceriaan pesta besar kita," imbau ‎beliau.‎

Beliau memperingatkan, jika masih ada yang nekad menempuh jalan yang lain, ‎maka saya akan berbicara kepada masyarakat dengan lebih transparan.‎

Di bagian lain khotbahnya, Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyinggung ‎pernyataan sejumlah pimpinan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, seraya ‎mengatakan, "Sebelum berlangsungnya pemilu, media massa dan para ‎pemimpin negara-negara Barat berusaha menebar keragu-raguan soal pemilu ‎dengan tujuan melemahkan partisipasi masyarakat. Partisipasi 40 juta warga ‎yang memberikan suara dalam pemilu, menyentak media dan para pemimpin ‎Barat. Peristiwa besar ini menunjukkan kepada mereka akan babak baru dalam ‎sejarah Republik Islam Iran, dan tak ada jalan bagi mereka kecuali menerima ‎kenyataan ini." ‎
Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, protes dari sejumlah pihak di ‎dalam negeri pasca pemilu, dipandang oleh Barat sebagai peluang yang harus ‎dimanfaatkan. Retorika mereka pun berubah dan secara perlahan kedok yang ‎menutupi wajah mereka pun disingkap.‎
Beliau menjelaskan, di awal pekan, sejumlah pemimpin dan pejabat tinggi Barat ‎menunjukkan sikap yang bermusuhan dengan negara Islam ini, dan yang paling ‎keji adalah sikap pemerintah Inggris.‎

Terkait pernyatan sejumlah petinggi AS yang mengaku menantikan terjadinya ‎kerusuhan di Iran dan turunnya massa ke jalan-jalan, Rahbar menegaskan, ‎‎"Pernyataan seperti ini disampaikan ketika mereka di satu sisi mengirimkan surat ‎yang mengaku menghormati dan ingin menjalin hubungan dengan Republik ‎Islam Iran. Manakah yang bisa dipercaya, pernyataan itu atau surat ini?"‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengungkapkan, "Seiring dengan itu, di dalam ‎negeri sejumlah anasir yang berperan sebagai antek asing menggelar operasi ‎pengerusakan, pembakaran, perampokan, dan menebar ketidakamanan. ‎Tentunya, aksi-aksi merusak seperti ini tidak ada kaitannya dengan rakyat dan ‎pendukung kandidat peserta pemilu. Aksi itu dilakukan oleh oknum-oknum yang ‎tidak menginginkan kebaikan untuk rakyat Iran dan boneka yang bermain untuk ‎kepentingan dinas-dinas intrelijen Barat dan Zionis."‎

Beliau menekankan, "Kondisi ini membuat musuh berpikir bisa melahirkan ‎revolusi beludru di Iran, seperti yang dilakukan oleh konglomerat zionis di ‎sejumlah negara kecil dengan hanya berbekal dana 10 juta dolar. Masalah utama ‎musuh-musuh Iran adalah mereka tidak mengenal bangsa ini."‎

Dalam hal ini, yang paling busuk adalah sikap para petinggi AS yang menyatakan ‎simpati dengan kondisi hak asasi manusia di Iran. Menurut Rahbar, mereka yang ‎melakukan kejahatan besar di Afganistan dan Irak serta mengucurkan bantuan ‎finansial dan politik kepada rezim zionis Israel tidak berhak berbicara soal HAM.‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan kembali peristiwa pembunuhan ‎massal 80 orang anggota sekte Davidian yang terjadi di AS pada masa ‎kepresidenan Bill Clinton. Rahbar mengatakan, "Kalian yang telah membakar ‎hidup-hidup 80 orang, termasuk perempuan, laki-laki dan anak kecil, apa yang ‎kalian ketahui tentang hak asasi manusia?" ‎

Beliau menyatakan, sebagai negara yang mengangkat panji pembelaan terhadap ‎HAM dan hak orang-orang tertindas, Republik Islam Iran tak memerlukan ‎nasehat Dunia Barat. Sebaliknya, para pemimpin Eropa dan Amerika sudah ‎seharusnya merasa malu dan mengakhiri sikap-sikap yang anti HAM.‎

Di akhir khotbah kedua, Ayatollah Al-Udzma Khamenei meminta doa dari Imam ‎Mahdi (as) dan menyatakan ikrar akan terus berjuang demi Islam dengan siap ‎mengorbankan jiwa, raga dan kehormatan.‎

Pemimpin Besar Revolusi Islam pada khotbah pertama menyeru jemaah Jum'at ‎untuk selalu mengingat Allah. Beliau mengatakan, "Di saat-saat genting ketika ‎hati dipenuhi oleh kegelisahan dan kecemasan, dzikrullah dan berharap kepada ‎terwujudnya janji Allah adalah benteng paling baik. Dengan demikian, Allah Swt ‎akan menurunkan sakinah dan ketenangan ke dalam hati kaum Mukmin, dan ‎itulah yang akan membuatnya kokoh dan mantap dalam melangkah."‎
Seraya menyinggung berbagai peristiwa besar yang terjadi sepanjang sejarah ‎revolusi Islam, beliau menandaskan, "Peristiwa-peristiwa besar itu ibarat badai ‎dahsyat yang masing-masing dapat menghancurkan sebuah bangsa dan negara. ‎Akan tetapi bahtera revolusi Islam tetap kokoh berkat keimanan dan tekad kuat ‎rakyatnya yang mukmin. Ini menandakan bahwa Allah menurunkan rahmat dan ‎anugerahNya kepada bangsa ini."‎

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyebut takabur dan lalai kepada Allah dapat ‎menjadi faktor terhentinya curahan rahmat Ilahi. Beliau mengatakan, "Semua ‎orang harus waspada, jangan sampai emosi di panggung politik dan dialog bebas ‎yang lazim terjadi di sebuah negara memalingkan kita dari dzikrullah dan tujuan ‎utama kita."‎

Seraya menjelaskan keimanan dan semangat spiritual para pemuda, beliau ‎berpesan kepada seluruh rakyat khususnya generasi muda untuk memanfaatkan ‎secara penuh kesempatan spiritual yang ada, seraya mengatakan, "Tak lama lagi ‎bulan Rajab akan tiba. Doa-doa bulan ini yang merupakan lautan makrifat, ‎hendaknya dimanfaatkan sebaik mungkin."‎ (rahbar.ir)



[Selengkapnya...]

June 4, 2009

Dimensi Dalam Diri Imam Khomeini ra



SEMOGA ALLAH MEMULIAKAN KITA DENGAN SYAHADAH
SANG PENEGAK REVOLUSI ISLAM
SANG PEJUANG HAM SEJATI
SANG PEMBEBAS KAUM TERTINDAS
AL-IMAM RUHULLAH AL-MUSAWI AL-KHOMEINI RA


Imam Khomeini adalah figur yang mampu memadukan berbagai dimensi. Namun dalam tulisan ini saya hanya ingin menyoroti—melalui mata saya yang sempit ini—dua dimensi utama beliau, yaitu dimensi politik dan dimensi kearifan (‘irfan).

DR. Hamid Algar dalam sebuah artikelnya menyatakan bahwa Imam Khomeini dinilai oleh kalangan Barat dan muslimin sebagai pemimpin revolusi yang luar biasa. Semua yang secara dekat mengenal beliau maupun yang hanya sebentar bertemu beliau memberikan kesaksian bahwa beliau memiliki pandangan yang melampaui batas politik. Keterkaitan politik dalam (dimensi) kearifan inilah yang mungkin merupakan sisi khusus Imam Khomeini.[1]

Dimensi Politik

Seperti yang telah diketahui bahwa Imam Khomeini adalah seorang mujahid yang berhasil menegakkan sebuah revolusi Islam, yang dampaknya begitu besar bagi terangkatnya kehormatan (‘izzah) kaum tertindas di bumi ini.

Tak satu negara pun di dunia ini yang pernah melakukan revolusi sebagaimana revolusi Islam beliau. Sebagai contoh, Revolusi Perancis. Pemberontakan rakyat Perancis terhadap kezaliman raja Louise memang telah menghasilkan sebuah perubahan pada model pemerintahan, dari bentuk monarki ke bentuk republik. Namun kenyataannya nasib rakyat (atau sebagian rakyat) masih tetap tertindas. Sehingga, yang terjadi sebenarnya bukan sebuah revolusi, melainkan hanya pergantian bentuk dan personil pemerintahan.

Tetapi, revolusi Islam Imam Khomeini benar-benar menampilkan sebuah perubahan yang sangat krusial. Rakyat Iran yang telah sekian lama ditindas dan dibodohkan oleh rezim Pahlevi—yang didalangi oleh Amerika dan Israel—dihantarkan oleh Imam Khomeini menuju kebebasan, kemerdekaan, dan kelayakan hidup sebagai manusia. Kekuatan-kekuatan thaghut dunia pun dihancurkan dan dipermalukan di depan masyarakat dunia.

Namun demikian “suara keadilan” revolusi Islam tidak hanya bergaung di seputar rakyat Iran, melainkan juga merambah negara-negara lain. Kaum muslimin tertindas di belahan lain bumi ini seperti Mesir, Palestina, Libanon, Moro, dan lain-lain menjadi bangkit, berani, dan terdukung dalam meneriakkan perlawanan terhadap kezaliman para thaghut dunia yang dimotori oleh Amerika dan Israel serta sekutu-sekutu mereka.

Bahkan kaum non-muslim pun tak luput dari gaung “suara keadilan” revolusi Islam itu. Ketika dulu kaum kulit hitam Afrika Selatan tertindas oleh politik apartheid, Iran adalah negara pertama atau mungkin malah satu-satunya negara yang memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Afrika Selatan. Bahkan kepada Rafsanjani—presiden Iran saat itu—ketika berkunjung ke Pretoria tahun 1996, Nelson Mandela menyampaikan pidato kehormatan: “Setelah kemenangan Revolusi 1979, negara anda telah banyak berkorban dalam mendukung upaya kami. Iran menolak untuk memuluskan sistem yang dianggap oleh dunia sebagai kejahatan kemanusiaan. Hal itu telah menjadi kebijakan anda terhadap Afrika Selatan, hingga apartheid runtuh. Karena itu, meskipun kami telah menyampaikan rasa terima kasih melalui delegasi anda pada peresmian pemerintahan kami, namun saya masih merasa wajib untuk menyatakan sekali lagi kepada bangsa Iran: “Terima Kasih”.”[2]

Semua ini tak hanya membuat gerah para thaghut, tetapi juga menjadikan mereka gusar, marah, dan benci atas keberhasilan Imam Khomeini, yang benar-benar telah menampar muka mereka. Akhirnya mereka gunakan segala macam cara licik demi menghancurkan revolusi Islam; yang sayangnya justru didukung juga oleh beberapa orang—yang mengaku muslim—yang merasa dirugikan kepentingannya dengan bergulirnya revolusi Islam ini, sehingga mereka pun rela menjadi antek kaum imperialis dunia.

Penghinaan demi penghinaan dan fitnah demi fitnah mereka lakukan terhadap Imam Khomeini. Bahkan mereka juga memanfaatkan kebencian kaum wahabi atas syi’ah sebagai salah satu cara untuk memuluskan keinginan mereka dalam menghancurkan revolusi Islam. Sehingga pernah terjadi sebuah buku Imam Khomeini—yang berjudul “Kasyful Asrar”— diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan penuh distorsi dari buku aslinya, demi membentuk kebencian kaum muslimin terhadap beliau.[3]

Tantangan-tantangan seperti itulah atau bahkan lebih berat dari itu, yang selalu menemani kehidupan seorang Imam Khomeini. Namun hal itu tak sedikitpun membuat beliau gentar. Beliau tetap berani dan konsisten dalam mengumandangkan suara keadilan dan perlawanan terhadap kezaliman, hingga akhir hayat beliau.

Tina Conlon, seorang tokoh nasrani Canada, bahkan tak mampu menyembunyikan perasaannya: “Saya tak banyak mengenal Imam Khomeini, namun saya telah banyak mempelajari (tentang beliau) sejak enam belas tahun yang lalu. Saya menganggap beliau sebagai salah satu pemimpin spiritual saya. Beliau memperjuangkan urusan Tuhan dengan menentang penindasan. Beliau melawan kezaliman demi rakyat Iran yang menderita di bawah penindasan Syah. Beliau melawan kezaliman rezim apartheid atas warga kulit hitam Afrika Selatan. Beliau melawan kezaliman atas warga Palestina, yang hingga saat ini tak terlindungi dari kejahatan hanya karena mereka ingin kembali ke rumah mereka.”[4]

Dimensi Kearifan (‘Irfan)

Imam Khomeini selalu menjadikan Allah sebagai tujuan. Semua perjuangan dan gerakan beliau hanya demi meraih keridhaan-Nya. Beliau pun hanya menggantungkan harapan kepada Allah. Oleh karena itu, dalam upaya menggulirkan revolusi Islam, beliau tak pernah mempedulikan ada atau tidak adanya pendukung. Beliau hanya melihat Allah.

Hal ini terlihat dalam jawaban beliau kepada Yasser Arafat, ketika ia menemui beliau pada tanggal 18 Februari 1979. Saat itu Yasser Arafat menyatakan bahwa Israel dapat berlindung dan bergantung kepada Amerika, sementara Palestina juga bisa bersandar kepada bangsa Iran. Namun, Imam Khomeini menjawab: “Tempat perlindungan yang tidak lemah, alias berdaya, adalah Allah. Allah adalah tempat kita berlindung. Saya nasihati Anda, rakyat saya, dan rakyat Anda untuk selalu berpaling kepada Allah, bukan pada kekuatan-kekuatan (dunia) itu. Jangan bergantung pada sesuatu yang bersifat material, tetapi pada yang bersifat spiritual. Kekuatan Allah lebih besar ketimbang semua kekuatan-kekuatan (dunia) itu. Sehingga, kita melihat sebuah bangsa yang lemah dan bertangan kosong mampu mengalahkan seluruh kekuatan (dunia), dan insyaAllah akan terus demikian.”[5]

Ketundukan dan kerendahan diri beliau di hadapan Allah tak diragukan lagi. Beliau tak pernah meninggalkan shalat malam (tahajjud), meski dalam kondisi lelah atau sakit sekalipun. Beliau habiskan malam dengan menangis dan bermunajat kepada Allah. Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam Ashtiyani bahwa suatu ketika salah seorang keluarga Imam memasuki kamar beliau di rumah sakit sebelum masuk waktu subuh. Ia mendapati Imam tengah menangis tersedu-sedu—hingga wajah beliau basah oleh air mata—sembari bermunajat kepada Allah.[6]

Beliau pun selalu menganggap ibadah shalat lebih penting dari urusan lainnya. Karena itu beliau selalu melakukan shalat di awal waktu, meskipun sedang berada dalam perjalanan, dalam penjara, di pengasingan, dan bahkan ketika tergolek lemah karena sakit parah. Diriwayatkan oleh Firishte I’rabi bahwa sejak satu jam sebelum masuk zhuhur, beliau selalu bertanya kepada siapa saja yang menjenguk beliau di rumah sakit: “Berapa lama lagi masuk waktu zhuhur?”, agar beliau dapat melaksanakan shalat di awal waktu. Bahkan ketika kondisi beliau kritis dan tak sadarkan diri, saat dokter membisikkan bahwa waktu maghrib telah tiba, beliau pun meresponnya dan kemudian melakukan shalat dengan gerakan isyarat tangan dan alis.[7]

Diriwayatkan pula oleh Sayyid Ahmad Khomeini bahwa Imam pernah menghentikan pidato (pada saat-saat akhir pengasingan beliau di Perancis), hanya karena hendak melaksanakan shalat di awal waktu. Padahal itu merupakan momen besar dan efektif, dimana saat itu revolusi telah mencapai titik kemenangan yang ditandai dengan kaburnya Syah. Apalagi pidato ini diliput oleh sekitar 150 juru kamera dari berbagai penjuru dunia dan direlai oleh stasiun-stasiun televisi Internasional seperti CNN, BBC, dan lain-lain; juga oleh semua wartawan berita seperti Associated Press, United Press, dan Reuters; termasuk pula oleh para wartawan media cetak dan radio.[8]

Kearifan dan penghambaan kepada Allah inilah yang menghantarkan beliau menjadi pejuang sejati, yang selalu mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian pada sesama, serta menolak segala macam kezaliman dan pelanggaran hak sekecil apapun.

Diriwayatkan oleh Ayatullah Qarhi bahwa ketika Imam berada di pengasingan Najaf, rumah kecil beliau selalu menjadi tempat shalat berjama’ah zhuhur dan asar. Banyak yang mengikuti shalat berjama’ah ini, hingga memenuhi rumah dan halaman. Saat Imam memasuki ruangan, beliau begitu berhati-hati dalam melangkah. Hal ini demi agar beliau tidak menginjak sepatu atau jubah orang lain. Sungguh luar biasa, hingga seperti inilah cara beliau menghormati hak orang lain.[9]

Diriwayatkan pula bahwa Imam pernah menolak ketika rumah mungil beliau hendak dipasangi pendingin ruangan, sementara saat itu sedang musim kemarau yang begitu panas. Ketika ditanya mengapa beliau menolaknya, beliau menjawab bahwa saat itu warga Afghanistan—yang tengah dijajah oleh Rusia—sedang mengalami kepanasan yang sama.[10]

Inilah dua dimensi utama pada diri Imam Khomeini, yang telah sedemikian berfusi dan tak akan pernah berpisah. Dimensi yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang hanya menjadikan Allah sebagai tujuan, yang hanya bergantung pada kekuatan Allah, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, dan menghormati hak orang lain.

Saya yakin, tulisan ini sangat jauh dari keagungan dan kemuliaan pribadi Imam Khomeini yang sesungguhnya. Karena ini hanyalah upaya untuk semaksimal mungkin melihat dan meneladani beliau, meskipun melalui mata yang begitu sempit.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip beberapa pendapat tokoh dunia tentang Imam Khomeini dan Revolusi Islam beliau:

1. Michel Foucault (seorang filosof), ketika meletus Revolusi Islam Iran, menyatakan: “Pemerintahan Islam dapat memprakarsai sebuah spiritulitas politik baru dan mempropagandakan perubahan dunia. Hal yang tak lagi dikenal oleh Barat, semenjak munculnya modernitas.”[11]

2. Roger Garaudy (seorang intelektual Perancis) menyatakan: “Revolusi Islam Iran menampilkan contoh baru dari manusia dan masyarakat sempurna. Ini merupakan alasan di balik permusuhan Barat terhadapnya. Khomeini telah memberikan makna baru bagi kehidupan bangsa Iran.”[12]

3. William Wersey (seorang penulis dan jurnalis Amerika) menyatakan: “Revolusi Islam Iran adalah mulia, karena dia merupakan teriakan yang berasal dari nurani Imam Khomeini.”[13]

4. Paus Johannes Paulus II menyatakan: “Ia adalah seorang yang dapat mengekpresikan pandangannya, mengingat apa yang telah ia lakukan terhadap negaranya dan dunia, dengan kehormatan besar dan pemikiran yang dalam.”[14]

5. Norman Mailer (seorang penulis) menyatakan: “Khomeini telah menawari kita kesempatan untuk menyembuhkan agama kita yang lemah ini.”[15]

6. Ernesto Cardinal (pejuang Nikaragua) menyatakan: “Para pencinta kebebasan di dunia berduka atas wafatnya Imam Khomeini.”[16]

7. Rajiv Gandhi menyatakan: “Ia seorang pemimpin besar, yang telah menggulirkan kemenangan revolusi Islam dengan keyakinannya dan berhasil meruntuhkan rezim Syah.” [17]

8. Muhammad Haikal (penulis dan ulama sunni) menyatakan: “Ia adalah orang besar, yang datang dari periode yang lain.”[18]

9. Robert Mugabe menyatakan: “Ia membimbing bangsa Iran dalam sebuah revolusi terbaik, yang unik di dunia.”[19]



Referensi:

[1] DR. Hamid Algar, “The Fusion of The Gnostic and The Political in The Personality and Life of Imam Khomeini”.

[2] “Address by President Nelson Mandela at A Banquet in Honour of President Rafsanjani of Iran”, Pretoria, 12 September 1996; Mohsen Pak Ayin, “A Look at The History of Relations Between Iran & African States”, The Journal of African Studies (Quarterly), vol. 1, hal. 13-28, Summer 1994.

[3] DR. Ibrahim Dasuki Syata, “Kasyful-Asrar Khomeini: Antara Bahasa Arab dan Bahasa Parsi”, Yayasan As-Sajjad, Jakarta.

[4] Tina Conlon, “What I Think of Imam Khomeini”, Al-Haqq Newsletter, vol. 5, issue 7.

[5] The Institute for The Compilation and Publication of The Works of Imam Khomeini, “Palestina Dalam Pandangan Imam Khomeini”, hal. 182, Pustaka Zahra, Jakarta.

[6] Association of Learning and Human Resource Research Office, “Tranquil Heart”, bab 11.

[7] Abu Muhammad Zaynul ‘Abidin, “Soaring to The Only Beloved”, bab 9.

[8] Ibid.

[9] Association of Learning and Human Resource Research Office, “Tranquil Heart”, bab 22.

[10] Kisah dari seorang teman, yang pernah belajar di Hauzah Qum, Iran.

[11] Wikipedia, “Ruhollah Khomeini”.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid.

[17] Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), “Imam From Official’s Point of Views”.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

~ ISLAT/05/Habib Anis M.


[Selengkapnya...]

June 1, 2009

Pesan Rahbar Atas Peristiwa Teror di Zahedan




Bismillahirrahmanirrahim

Peristiwa terorisme berdarah yang terjadi di Zahedan dan telah menjatuhkan banyak korban syahid dan cedera ‎di antara warga pencinta Ahlul Bait tepat di hari peringatan syahidnya Fatimah Azzahra a.s, telah meninggalkan ‎rasa duka dan kekhawatiran saya. Aksi menyerang orang-orang mukmin yang datang ke rumah Allah untuk ‎menjalankan ibadah kepada Allah dan menunjukkan kecintaan kepada Ahlul Bait a.s adalah kejahatan yang ‎besar, dan Allah tak akan memaafkan dosa para eksekutor dan aktor intelektual kejahatan ini. ‎

مَن يَقتُل مُؤمِناً مُتَعَمِّداً‎ ‎فَجَزاؤُهُ جَهَنَّمُ خالِداً فيها وَ غَضِبَ اللهُ عَلَيهِ

Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, ia kekal ‎di dalamnya dan Allah murka atasnya...(Q. S. Al-Nisa': 93)‎

Para pelaku mungkin melakukan kejahatan dan dosa besar ini karena didorong faktor fanatisme dan kebodohan, ‎namun tak dapat dipungkiri bahwa tangan-tangan para aktor intelektual asing yang intervensi di negara ini serta ‎agen-agen spionasenya juga telah tercemari oleh darah para korban yang tak berdosa. Musuh-musuh Republik ‎Islam, sejak dulu selalu berusaha menciptakan fitnah, kekacauan dan aksi saling bunuh antara sesama muslim ‎di negara-negara kawasan khususnya di negeri kita yang tercinta ini. Hanya kesadaran rakyat dan upaya tindak ‎lanjut dari para pejabat negara yang dapat mencegah terjadinya kejahatan bengis politik ini. Masyarakat yang ‎mukmin dan waspada di Zahedan dan kota-kota lainnya di provinsi ini dan juga rakyat di seluruh pelosok negeri ‎harus waspada menghadapi konspirasi dan tipu daya musuh, dan dengan menjaga persatuan Islam dan ‎kesatuan nasional patahkan tipu daya musuh Iran dan musuh Islam. ‎

Para ulama dan mereka yang ditokohkan di antara warga Sunni di provinsi ini hendaknya secara jelas ‎menegaskan sikap yang berlepas tangan dari para durjana yang melakukan kejahatan dengan alasan membela ‎Ahlussunnah. Berilah pencerahan kepada masyarakat akan makar musuh. Di pihak lain, para ulama dan tokoh ‎masyarakat dari kalangan Syiah hendaknya menjelaskan kepada semua orang akan niat busuk musuh dalam ‎menebar fitnah dan membangkitkan sentimen madzhab dan kesukuan, dan cegahlah semua orang dari ‎melakukan reaksi yang bodoh dan emosional.‎

Para pejabat dan petugas keamanan dan politik harus menindaklanjuti masalah ini dengan serius dan dengan ‎gigih menjaga keamanan umum masyarakat Muslim. Serahkan para pelaku kejahatan ini kepada keadilan. ‎

Kepada keluarga para korban yang tengah berduka saya mengucapkan belasungkawa yang dalam dan ‎memohon kepada Allah untuk meninggikan derajat para syuhada dan memberikan kesembuhan yang cepat ‎kepada mereka yang terluka.‎

Sayyid Ali Khamenei
‎8 Khordad 1388 (29 Mei 2009)‎
‎4 Jumada Tsaniah 1430 Hijriyah‎
~ wilayah.ir

[Selengkapnya...]

Visited

About Me

My Photo
Ar Radhi
Mengedepankan Rasional (aqli) dan Kemurnian Aqidah Islam (Al Quran dan Itrah Ahlul Bayt).
View my complete profile

About This Blog

Blog ini sebagian besar berisi beragam artikel yang dikumpulkan dari kejadian yang terlihat, terfahami, terbaca dan terjadi di sekitar Ryan Radhi HS.

Artikel dalam blog ini hanyalah prolog kajian yang tentunya memerlukan pengkajian lebih lanjut untuk memenuhi unsur kefahaman. Sesungguhnya Hanya kepada masing masing pribadilah kembalinya Upah atas Niat & Usahanya.

"Dan masing-masing orang memperoleh
derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."
{ QS. Al An'Am ayat 132 }


  © Ryan Radhi HS Blog Supported by :

Blogger template ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP